Teuku Husein Muhammad Danindra, biasa disapa Husein mulai mengenal golf di usia 6,5 tahun. Kala itu ia kerap diajak ayahnya—Andri Armansyah, yang juga Ketua Parents Children Golf Club (PCGC) ke lapangan golf untuk sekedar bermain-main layaknya anak-anak. Awalnya ia tidak langsung tertarik dengan Swing atau Bunker, melainkan justru penasaran dengan Buggy Car. Mungkin Husein kecil melihat mobil golf seperti mainan mobil toys di rumahnya. Ia ingin mengemudikan golf car! Namun Andri melarangnya, karena usianya terlalu kecil dan buggy car bukanlah mainan. “Kalau kamu mau nyetir mobil ini, harus jadi golfer dulu”, kenang Andri yang saat itu bersama anaknya bermain di Karawaci, 2014. Sejatinya Andri hanya bercanda, ia tidak memaksakan Husein harus menjadi atlet golf. Namun justru jawaban ayah yang membuat Husein tertarik. “Ya udah Pa, kalau begitu Aku mau jadi pemain golf agar bisa nyetir mobil golf”, ingat Husein kepada JakGolf melalui virtual meeting, 27 Desember 2021.

Sejak itulah Andri mendukung niat anaknya untuk memperdalam golf. Lalu Husein mulai berlatih memukul bola di Lapangan Halim secara rutin. Ia didampingi pelatih yang mengarahkan dasar-dasar permainan ini. Setelah di Halim, Husein pindah ke JGA Golf Academy di Rawamangun, Maret 2015. Di akademi yang terletak di lapangan golf tertua di Jakarta ini, Husein sempat merasakan sentuhan Gavin Webb, pelatih golf senior dari Australia. Program di JGA sendiri saat itu gratis, sehingga Andri mendorong anaknya untuk memaksimalkan peluang tersebut. Dari Rawamangun ini skill Husein mulai diasah agar bisa memainkan golf secara benar. Husein sendiri sangat antusias, dimana ia bisa memukul hingga 400 sampai 500 bola setiap latihan.
Enam bulan latihan intens, Husein mulai ambil bagian dalam turnamen-turnamen di Jakarta untuk mendapatkan pengalaman dan jam terbang kompetisi. Dari satu turnamen ke turmanen lainnya, ia mulai tertantang untuk mengejar prestasi. “Waktu itu ada dua anak Korea yang sering ikut turnamen IJG bareng Husein, nah dari situlah Husein terpacu untuk bisa mengalahkan mereka suatu saat nanti”, kata Andri. Event IJG yang diadakan setiap bulan ini menjadi tempat bagi Husein untuk berkembang. Bahkan tidak sampai satu tahun ia sudah memakai stick kepala tujuh. Dengan modal ini, Husein mulai mencoba turnamen di regional seperti di Malaysia, Thailand dan sebagainya. Salah satu yang diingatnya adalah 2016 Kids Golf World Championship di Johor Bahru. Event ini diikuti lebih dari 310 pegolf junior dari 26 negara masuk dalam R&A World Amateur Golf Ranking.

Di event regional pertamanya, Husein mencatatkan prestasi yang lumayan, dengan menempati urutan enam di klasemen akhir. Pengalaman internasional membuatnya semakin percaya diri, yang terlihat pada Kejurnas yang dihelat PB PGI, 2018 Husein menduduki posisi ketiga, dan setahun berikutnya, 2019 menjadi juara, dan 2020 menempati runner up. Dukungan orang tua dan keluarga sangat penting perannya dalam mencetak atlet golf sejak dini. Itu juga yang dialami Teuku Husein, dimana dukungan keluarga yang all-out membuat mimpinya menjadi atlet pro di masa depan semakin dekat.
Di tahap awal, banyak pengorbanan yang dilakukan Andri dan istrinya. Mulai dari mendamping anaknya latihan rutin, terjun ke berbagai kompetisi, hingga biaya. Kita tahu golf bukanlah oleh raga murah, sehingga memerlukan komitmen dari orang tua. “Ya di awal-awal semua biaya kami tanggung sendiri (keluarga), termasuk kalau ikut kompetisi di luar negeri. Tapi dalam beberapa tahun terakhir sudah ada dukungan dari PGI DKI dan PB PGI ada, termasuk dukungan ke POPB lainnya dalam akses lapangan dengan harga khusus”, papar Andri. Ayah empat anak ini juga mengaku bahwa PGI DKI tidak hanya memberi akses latihan ke lapangan, namun juga membiayai keberangkatan ke sejumlah turnamen. Kendala sewa lapangan dan perlengkapan untuk atlet junior ini memang penting dipikirkan oleh para stakeholders golf di Jakarta dan Indonesia. Sebagai perbandingan, di Malaysia misalnya, selalu ada harga khusus bagi atlet junior jika ingin berlatih. Bahkan pengakuan beberapa atlet, harga bola di Indonesia (untuk Junior) lebih mahal dari yang berlaku di Malaysia.

Seharusnya para pihak yang peduli dengan kemajuan golf masa depan, memberikan affirmative actions atau kebijakan khusus untuk para junior. Ketua PGI DKI Reza Rajasa sangat komit dengan hal ini, dimana ia beberapa kali melobi pihak lapangan dan stakeholders yang lain untuk mensupport junior atlethes di Jakarta. Target Husein dalam jangka pendek, terus memperbaiki performa dengan mengikuti berbagai kompetisi. Pasalnya selama pandemi Covid-19 ini, sejumlah event mengalami penundaan, khususnya selama 2020 lalu. Sementara target jangka panjang, Andri menginginkan Husein bisa masuk Tim Nasional dan mendapatkan beasiswa sekolah golf di luar negeri. Saat ini sejumlah atlet elit amatir PGI DKI juga sedang menempah pendidikan (beasiswa golf) di sejumlah kampus di Amerika Serikat.
Kita doakan Husein makin bersinar ke depannya!


