Almay: Dari Amatir, UNJ hingga Caddy

Sejak Maret 2020, Indonesia melakukan pembatasan sosial akibat krisis Covid-19 yang kini menjadi pandemi. Tak hanya Indonesia, hal yang sama juga menimpa semua negara di dunia. Banyak sektor terdampak, tak terkecuali olahraga, khususnya golf. Sebagian besar agenda / kompetisi, baik nasional maupun internasional berhenti atau batal. Baru beberapa bulan terakhir geliat di lapangan golf kembali terlihat, pasca pelonggaran oleh beberapa negara. Lalu bagaimana atlet golf DKI Jakarta merespon kondisi ini?  

Salah satu atlet timnas asal DKI, Almay Rayhan Yaquta membagikan kisahnya. Ia mengaku sempat berhenti mengayunkan stik golf karena pandemi. Totalnya setahun Aku gak main dan harus stay di Surabaya. Setelah mulai reda dan balik ke Jakarta, baru mulai lagi penyesuaian”, ujarnya Almay dalam Podcast PGI DKI Jaya, beberapa waktu lalu. Almay dibesarkan di keluarga yang tak jauh dari olah raga. Orang tuanya sempat menjadi atlet softball. Alih-alih mengikuti jejak ayah dan ibunya, Almay kecil yang masih duduk di bangku 5 SD ini diajak ke lapangan golf untuk bermain lalu malah jatuh cinta pada olahraga ini saat ia pertama kali mengayunkan stik golf.

Bakatnya mulai terlihat ketika berhasil mengikuti pertandingan junior di tahun 2008 dalam waktu kurang dari dua bulan. Berangkat dari sana, Almay terus berusaha menorehkan rekor prestasinya di berbagai ajang seperti Enjoy Jakarta, medali emas individual Asian School Games, juara di Kejurnas Elite dan Amatir, bronze di Putra Cup, Indonesia Open, Faldo Series, juga 2 kali peserta SEA Games, dan masih banyak lagi. Kecintaan Almay pada olahraga golf juga didasari oleh faktor keunikannya yang tidak dimiliki cabang lain, yaitu ukuran lapangan yang selalu dinamis. Menurutnya, perlu keahlian khusus agar permainan golf bisa baik dan lancar seperti menerka arah angin, kondisi rumput, dan berusaha “menyatu” dengan alam.

Di luar itu, hal unik yang membuat golf lain daripada yang lain adalah karena seorang atlet bakal memiliki “pendamping” ketika sedang beraksi di lapangan. Layaknya Rally dengan navigatornya, golf memiliki Caddy atau pramugolf. Almay mengungkapkan bahwa memilih pasangan Caddy yang cocok bisa mempengaruhi performa seorang atlet. Bahkan ia menganggap perlu adanya pendidikan khusus bagi para Caddy agar tidak sekedar dianggap membawa Golf Bag.

“Caddy itu bagi aku gak melulu soal bagaimana dia pandai baca arah angin, break, dan hal-hal teknis lainnya. Tapi justru lebih ke soal nyaman atau nggak-nya kita berkomunikasi dengan dia. Harus terbangun hubungan emosionalnya”, ujar atlet yang juga mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Apa yang dipikirkan Almay benar, karena di sejumlah turnamen besar dunia, kerap kita lihat para golfer pro berdiskusi intens dengan Caddy untuk menganalisis permainan.

Di luar Golf—sebagaimana di atas—Almay adalah seorang mahasiswa UNJ jurusan Manajemen Olahraga. Sebagai student, ia merasa tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan sekaligus mengkuti kompetisi. Hal ini karena UNJ fleksibel dalam memfasilitasi atlet prestasi. Mata kuliah yang disukainya seperti Psikologi Olahraga dan manajemen.

Untuk menjaga performa permainannya, Almay tentunya sangat menjaga ketat pola hidup hariannya. Sejak kecil, Ia terbiasa bangun pukul 5 pagi hari untuk jogging dan latihan golf sebelum berangkat ke sekolah. Sepulangnya, ia melanjutkan kembali latihannya hingga matahari terbenam. Gaya hidup seperti ini ia terapkan setiap harinya. Beranjak masuk kelas 9, porsi latihan Almay terus bertambah dan semakin berat hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jalur home schooling agar bisa mengimbangi waktu latihannya. Bedanya, latihan di usia remajanya kian teratur dan lebih terarahkan berkat saran dari para pelatih nasional.

Atlet yang sangat mengagumi Tiger Woods ini percaya bahwa kerja keras tidak akan menghianati hasilnya. Ia mengambil pelajaran dari bagaimana idolanya itu penuh perjuangan dalam meraih apa yang dicita-citakannya. “Di dunia ini, ada orang yang memang dilahirkan dengan bakat. Tapi gak semua. Ada yang meraih sesuatu dengan banting tulang. Aku salah satunya. Aku bersyukur punya orang tua yang tegas sama anaknya.” Target ke depan, Almay tidak ingin buru-buru terjun sebagai pro player, justru ia ingin mematangkan amatir untuk satu sampai dua tahun lagi.

Leave a Reply