Meski disibukkan dengan urusan keluarga dan harus menjalani karantina beberapa minggu di Singapura, Suharsono, atau bisa dikenal dengan nama Cink-Cink—bersama sejumlah klub—yaitu Jakarta Master Club (JMC), Mercedez-Benz Owners Indonesia Golfers (MBOIG), Bintaro Golf Club (BGC) dan Siksam, sukses menggelar turnamen anter klub di Jakarta. Turnamen bertajuk Interleague Invitational 2021 ini merupakan pilot project dari Jakarta Premier League yang akan digelar dalam waktu dekat. Di Indonesia, turnamen antar klub golf secara rutin belum pernah ada. PGI DKI menginisiasi hajatan tersebut, yang diharapkan di tahun-tahun mendatang bisa menjadi Indonesia Premier League. Cink Cink adalah salah satu motor di belakang turnamen tersebut. Kepada JakGolf ia bercerita dari salah satu RS di Singapura melalui virtual meeting. Berikut petikannya:
Bagaimana rencana awal membuat Interleague Invitational 2021 yang sukses kemarin?
Pertama saya minta maaf ke teman-teman, karena harus terbang ke Singapura mendadak untuk alasan keluarga. Saat itu jadwal dan teknis turnamen belum ditentukan. Akhirnya, kami memberanikan diri untuk memulai perencanaan. Bikin-bikin ajalah istilahnya. Lalu saya mengusulkan Adhie Prakoso sebagai Ketua Pelaksana.
Turnamen antar klub di tengah pandemi ini tidak mudah, apalagi setelah sekian lama kosong tanpa kompetisi. Apa yang mendorong Anda dan tim mengadakan Interleague?
Ini hanya kelanjutkan dari komitmen Ketum PGI DKI, Reza Rajasa, dimana saat pemilihan kemarin berencana melakukan kunjungan ke klub-klub golf. Kami berupaya dan bersungguh-sungguh mengakomodasi mereka. Selama ini ada stereotype—tentu tidak semua—saat ada Munas organisasi apapun, klub-klub atau voters hanya didekati jelang pemilihan. Nah Reza lain, karena ia memiliki waktu untuk membina klub-klub di Jakarta, tentunya dengan mengadakan turnamen. Nah sejak tahun lalu sebenarnya kita mau mengadakan ini, tapi kan ada pandem. Ya jadinya baru realisasi sekarang.
Interleague kemarin, JMC bertindak selak host, berapa lama persiapan?
Awalnya saya lihat momen dimana rekan (klub) lain sparring bersama yang kemudian dipasang di Instagram. Lalu saya kirim pesan ke teman saya, Isnan (MBOIG). Lalu dia merespon baik, “Oh, boleh donk! Kita buat aja kompetisi antar 4 klub”, katanya waktu itu. Saya antusias juga dengarnya. Kita langsung inisiatif buat grup di WhatsApp. Ya sudah, saya langsung pilihkan 4 klub kemarin. Kalau tidak salah, hanya satu bulan rancangan ini kelar. Biar menarik, kita buat juga ada press conference antar klub pra pertandingan, lalu kita biarkan ada psywar diantara mereka, biar kaya ala-ala UFC gitu. Hahaha. Untuk lokasi, kita sepakat untuk berangkat ke Gunung Geulis.
Kenapa akhirnya Gunung Geulis jadi pilihan?
Saya punya hubungan baik dengan Gunung Geulis. Di sana, saya dipercaya sebagai Kapten. Walaupun saya sadari, keputusan ini sempat dipertanyakan karena PGI DKI harusnya berfokus pada course-course yang ada di Jakarta, bukan Jabar. Namun, kami beropini Gunung Geulis cukup suportif lapangannya untuk turnamen. Selain itu, termasuk salah satu lapangan yang produktif. Hampir setiap hari selalu ada jadwal main. Arena itu dahulu jadi saksi tim junior yang saya bawa untuk mengangkat bibit-bibit baru ini.

JMC awalnya diunggulkan, namun ternyata anti-klimaks, apa faktornya?
JMC berangkat dalam kondisi tidak full-team, dan memang gak ada target juara juga dari kami. Hehehe. Bisa kita lihat kan, secara mengejutkan Siksam keluar sebagai pemenang tunggalnya. Jadi, pilot project ini seperti aji mumpung aja buat kader-kader JMC lain yang jarang tampil, akhirnya punya jam terbang, supaya tidak ada lagi gap antar pemain senior dan junior. Yang paling penting, semua happy. Jalannya pertandingan sengaja dipimpin secara adil oleh juri PGI berpengalaman. Intinya, gimana caranya kita bisa tetap having fun di acara ini, namun tetap serius pada peraturan-peraturan.
Apa respon Ketum Reza Rajasa pasca pilot project ini?
Saya langsung ditelepon. Pak Ketua bilang senang banget dengan turnamen pembuka kemarin. Pesan beliau, jangan sampai putus kemeriahannya dan harus ada kontinuitas. Katanya juga, tidak perlu khawatir soal sponsor karena itu semua sudah dalam genggaman. Nama-nama bank besar siap mendukung program kita. Untuk kedepan, kita masih punya grand design yang menjadi mimpi saya selama ini.

Ke depan, liga golf seperti apa yang akan digelar, setelah uji coba turnamen kemarin berjalan baik?
Kami punya cita-cita untuk menjalankan ajang ini persis seperti Premier League di Inggris. Let’s say, kita punya 40 klub, maka harus ada full rounding sebanyak 39 kali dan wajib berjalan konsisten. Namun, mengingat durasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya cukup panjang, kami ubah konsepnya jadi mirip seperti penyisihan di Piala Dunia, yaitu dengan grouping method. Pertimbangannya, lebih simpel dan efisien. Mungkin hanya perlu memakan waktu selama 3 bulan untuk sampai ke acara final. Nantinya, ini akan terdiri dari 8 grup dengan jumlah 4 klub di masing-masing grupnya, namun bisa berubah tergantung banyaknya pendaftar. Rencananya, kita akan minta tiap klub menyiapkan pemain untuk kategori single (3 orang), foursome (2 orang), dan baseball (2 orang). Total, 7 orang per klub, belum dihitung dari subtitusioner (8 orang). Kami juga akan ketat soal status keberpihakan pemain pada klub. Player dilarang membela lebih dari satu klub pada kompetisi ini. Gak ada peran ganda, atau istilahnya “pemain cabutan” yang bebas main sana-sini. Pemain hanya diizinkan untuk menentukan loyalitasnya pada satu klub saja.
Apa manfaat lebih lanjut dengan adanya Liga Golf Jakarta?
So pasti, kami melihat banyak potensi bermacam sektor yang bisa hidup bila ide ini terlaksana dengan baik. Kita jadi bisa rutin tanding, banyak lapangan yang akhirnya terkelola, caddie yang sempat off karena pandemi jadi bisa kerja kembali, sorotan media juga bakal ramai lagi. Bayangkan, artikel olahraga bakal penuh dengan pemberitaan PGI DKI selama satu tahun. Saya haqulyaqin teman-teman wartawan pasti juga senang kalau ada exposure yang aktif dari golf, terutama wartawan olahraga. Selain itu, ini juga bisa dijadikan sebagai bentuk silaturahmi dan ramah tamah antar klub golf tanah air, biar makin akrab satu sama lain.
By Zaenal AB

