Bulan Ramadhan, PGI DKI Hadirkan Ber-Kolab Kita Kuat

Jakarta – Bulan Ramadhan 1442 tidak meghalangi pengurus Persatuan Golf Indonesia DKI Jakarta (PGI DKI) melakukan kegiatan, khususnya dalam pembinaan atlet junior dan amatir. Meski intensitas turnamen dibatasi selama pandemi Covid-19 dan puasa, Reza Rajasa, selaku Ketua Umum PGI DKI terus berinovasi menghadirkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Terbaru, PGI DKI menggelar Talk Show Series yang membahas dua tema sekaligus, yaitu Creating A Golf Winning Mentality dan Sports Marketing : How to Create Trust and A Positive Athlete Image?  Talk Show digelar di Jakarta Golf Club Rawamangun (JGC) Jakarta Timur Rabu (5/5/2021). Selain diskusi, rangkaian kegiatan tersebut juga diikuti dengan Signing of Collaboration antara PGI DKI dengan Oloro, yang merupakan apparel brand.

Acara dimulai pukul dua siang dan dibuka oleh Mas’ud Saleh sekalu Ketua KONI DKI jakarta. Dalam sambutannya melalui video conference, Mas’ud mengapresiasi langkah PGI DKI di bawah kepemimpinan Reza yang terus berinovasi dalam situasi yang tidak mudah. Ia juga menegaskan bahwa KONI terus mendukung pembinaan golf di DKI Jakarta. “Saya berharap forum siang ini menjadi momentum bagi PGI DKI, dan juga organisasi olah raga lainnya untuk terus berusaha melakukan berbagai langkah dalam pembinaan atlet, di tengah pandemi Covid-19”, ujarnya.

Mental Adalah Koentji

Pada Talk Show sesi pertama, yang membahas winning mentality, hadir sebagai narasumber William Sjaichudin, salah satu anggota tim golf DKI Jakarta yang berhasil “menyapu bersih” medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Pekanbaru, Riau, pada 2012 lalu. Setelah PON, William melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, ia sering tampil membela kampusnya dalam event NCAA. Prestasi William diharapkan dapat memotivasi para atlet junior dan amatir dalam menjaga mental untuk berjuang dan menang.

“Kunci untuk membentuk mental juara adalah para pegolf kita harus sering tampil di banyak turnamen, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar negeri. Karena dengan semakin sering tampil dengan lawan yang bermacam-macam—khususnya dari luar negeri—akan mengikis raya minder”, ujarnya. Apa yang dijelaskan William cukup beralasan karena dalam sports, kemenangan lebih banyak ditentukan oleh mental atlet, dan bukan skill atau teknis semata. Sebagaimana ditulis Lilik Sudarwati dalam bukunya, Mental Juara, Modal Atlet Berprestasi. “Faktor mental, selain fisik dan teknis (skill) merupakan penyangga utama seorang juara. Delapan puluh persen kemenangan ditentukan faktor mental. Mantal juara adalah, kesempurnaan individu dalam penguasaan emosi dan intelektual”, tulisnya.

Sementara menurut Reza Rajasa, Ketua Umum PGI DKI, mental atlit sangat penting dalam mengarungi suatu kompetisi. Di negara-negara maju, tambah Reza, selain pelatih teknis, kehadiran psikolog dan professional di bidang kejiwaan juga lumrah ditemui di banyak organisasi oleh raga maupun klub. “Kita ingin mengembangkan golf, dalam hal ini atlet golf, dengan berbasiskan pada sport science dan ilmu pengetahuan”, tegasnya.

Golf Tanpa Caddy

Pembicara berikutnya, Feliks Hariyanto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI), mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung upaya PGI DKI dalam pembinaan atlit golf Jakarta. APLGI, kata Feliks, memiliki data bahwa pengunjung ke golf course dalam dua tahun terakhir mayoritas didominasi usia 50 ke atas. “Oleh karena itu sejak beberapa bulan lalu fokus marketing kami menyasar kelompok milenial sampai 40-an, hal ini dalam jangka panjang jika pemain golf semakin banyak, tentu proporsi calon atlet juga semakin besar”, paparnya.

Satu ide menarik muncul dari peserta yang hadir, dimana untuk memasyarakatkan golf secara massif, isu cost juga menjadi perhatiannya. Makanya agar kalangan muda bisa tertarik ke golf, peserta talk show mengusulkan pentingnya menekan harga. Menanggapi usulan ini, Feliks menganggap hal tersebut bisa dipertimbangkan, terutama bila kita melihat tren di negara lain. “Misalnya dengan membudayakan bermain golf tanpa caddy, khususnya untuk atlet dan kalangan muda. Tren ini biasa di Eropa dan AS, namun belum banyak dilakukan di Indonesia. Maka bila ini bisa dilakukan oleh banyak pihak, biaya akan bisa ditekan. Bermain tanpa Caddy juga memungkinkan atlet junior mendiri sejak dini, termasuk menguasai berbagai aturan di golf secara lebih cepat”, tambahnya.

Perwakilan atlit Elite Amatir PGI DKI yang hadir, Natalia Yoko mengakui bahwa mental memang menjadi hal penting dalam pertandingan golf. Tak jarang ia menjaga mental dengan melakukan refresh di lapangan, jika tekanan semakin meningkat. “Aku biasanya bernyanyi untuk mengurangi tekanan”, ujar cewek yang masuk Tim PON DKI dan Sea Games ini. Lebih jauh, Yoko yang saat ini mendapatkan beasiswa full sponsorship dari Augusta University menyinggung perbedaan golf di AS dan Indonesia. Cewek 20 tahun ini mengaku golfer luar negeri memiliki rata-rata skill yang lebih baik, ditambah mental yang kuat. Ini didapat dari latihan dan kurikulum golf yang berkesinambungan. Semangat mereka juga luar biasa, tidak mau kalah.

Kolab PGI DKI x OLORO

Setelah sesi Talk Show pertama, acara dilanjutkan dengan Signing Ceremony antara PGI DKI dengan Oloro—sebuah brand apparel yang berkomitmen mendukung atlit junior dan amatir DKI Jakarta. Sesuai dengan tema yakni Ber-Kolab Kita Kuat di mana hadir para pegolf junior beserta orangtua mereka masing-masing, hadir juga Rex dan Jeff dari Olorogolf. Kehadiran dua anak muda yang sejak 2014 lalu mendirikan Olorogolf tersebut – memang untuk merealisasikan apa yang telah mereka bicarakan dengan Reza Rajasa mengenai kolaborasi antara PGI DKI Jakarta dan Olorogolf.

“Ini adalah kolaborasi perdana Olorogolf dengan asosiasi olahraga golf dalam hal ini PGI DKI” kata Rex A Djohan seusai menandatangani MoU antara Olorogolf dan PGI DKI Jakarta, yang diwakili oleh Sekjen PGI DKI Jakarta. “Semoga kolaborasi ini menjadi awal yang baik bagi kami dan pak Reza Rajasa sebagai Ketua PGI DKI Jakarta,” tambah Founder Olorogolf.

Menarik Sponsor

Pada Talk Show kedua, yang membahas sports marketing, hadir Andhika Suksmana, CEO Indonesia Sports Hub. Andhika sebelumnya dikenal sebagai Direktur Marketing dan Bisnis Persija Jakarta dan CEO The Footbalicious—sports managemet agent yang banyak membuat event sepak bola, dan menage nama-nama tenar diantaranya Irfan Bachdim. Andhika juga orang di balik kedatangan Mega Bintang David Beckham beberapa tahun lalu ke Indonesia.

Terkait golf marketing, Andhika menganalisis bahwa olah raga golf memiliki ekosistem yang lebih dari cukup untuk “menjual” golf dan atlet golf ke sponsor. “Hanya saja sering kali atlet tidak menyadari potensi dirinya, sehingga saya lihat peluang besar tersebut belum digarap maksimal”, jelasnya. Misalnya saja attitude atlit yang harus dijaga, khususnya bagaimana berlaku sebagai brand ambassador sebuat produk.

Hal senada dikatakan Nia Adriana, Eks GM Ancora Sports, yang banyak mengorbitkan pegolf amatir. Menurut Nia, banyak dinamika dala mengelola atlet golf. “Tugas saya adalah bagaimana memastikan para atlet bisa perform baik di lapangan maupun di luar lapangan”, ujarnya. Altet PGI DKI pada sesi kedua diwakili Almay Rayhan yang banyak mengulas pentingnya menjaga positive image bagi atlet di era social media. Menurutnya socmed sangat besar pengaruhnya bagi eksposure atlet, sehingga platform tersebut harus bisa dimaksimalkan, termasuk untuk menggaet sponsor. “Kuncinya kalau kita berprestasi, maka sponsor akan melirik. Namun itu juga tergantung attitude kita, seperti kemampuan public speaking”, pungkas Juara Amatir Indonesia Open 2018.***

Leave a Reply