By Zaenal & Fauzy
Jakarta – Bagi pemerati golf tanah air, pasti tidak asing lagi dengan nama Christina Natalia Yoko. Bukan karakter Yoko dari Yoko the Legend of Condor Heroes, Yoko yang satu ini adalah ladies golfer tanah air yang kini tengah menjalani studi di Augusta University, USA. Dalam PGI DKI Jaya #Podcast, belum lama ini, Yoko membagi pengalamannya tentang golf dan kesannya selama ia berada di negeri Paman Sam.
Cewek berdarah Ambon-Jepang ini mengakui bahwa awal ketertarikannya terhadap olah raga sudah mulai dari kecil. Penggemar serial teleisi Grey’s Anatomy ini menceritakan bahwa ia memang hobi terhadap hampir semua sport activities seperti basket, voli, renang, bowling, billiard dan golf. Ketertarikannya terhadap golf muncul saat ayahnya sering mengajak Yoko kecil merumput di golf course. Dari sana ia mengenal apa itu tee shot driving dan basic hit. Meski demikian, Yoko kecil tak langsung menggemari golf. “Saat itu hanya iseng-iseng maen sama papa”, ujarnya. Seiring waktu Yoko merasa menemukan passion-nya di golf.
Ketekunannya berbuah manis ala Augusta University menyodorkan full schoolarship dan memperkuat tim golf di kampusnya. Selain belajar dan berlatih golf, di AS Yoko mengaku mendapatkan teman-teman baru dari berbagai negara. Menyinggung perbedaan golf di AS dan Indonesia, wanita 20 tahun ini mengaku golfer luar negeri memiliki rata-rata skill yang lebih baik. Ini didapat dari latihan dan kurikulum golf yang berkesinambungan. Semangat mereka juga luar biasa, tidak mau kalah.
“Ambisius banget, mereka lebih agresif soal permainan. Short game-nya jago. Hebat dalam tembak jauh. Kalo kita biasanya masih text book banget. Masih pake cara-cara yang umum. Sedangkan orang-orang sana lebih ekperimental. Mereka udah pada tahap gimana caranya ball-shaping, draw hit, fade hit, roll chip, flip chip.” Tegas Yoko. Member National Collegiate Athletic Association (NCAA) ini juga menambahkan lapangan di AS, khususnya Augusta National Golf Club juga memberikan tantangan tersendiri bagi pegolf pendatang seperti Yoko dan lainnya.
Pasalnya, tidak semua orang memiliki akses untuk bermain. Selain dikenal memiliki level kesulitan top of the top seperti bertekstur licin, arsitektur yang beragam, dan distance yang relatif jauh, Augusta National hanya dapat diakses orang-orang tertentu saja. Yoko merasa amat bersyukur ia bisa mendapatkan keanggotaan dari 300 anggota khusus untuk memiliki akses ke lapangan yang dipakai untuk turnamen The Master tersebut. Wanita pemegang Medali Emas dan Perak di Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2016 ini mengatakan bahwasanya ia harus melewati seleksi untuk menjadi member Augusta.
“By the God’s blessing, aku satu di antara 5 orang yang terpilih untuk main di sana. Awalnya, to be honest, aku bisa main di sana juga karena special invitation. Mungkin juga karena aku membela tim golf Augusta University. Itu juga cuma dibolehin 1 kali main aja dalam setahun. Sekarang sih total aku udah coba tiga lapangan berbeda di Augusta National. Lapangannya aku suka banget. Fairway-nya itu lho, gak ada lecetnya!”, ulasnya.
Awal semester satu ada kualifikasi sebelum turnamen. Dalam satu minggu Yoko cuma dapat libur 1-day off. “Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu udah pasti buat kualifikasi di lapangan. Kita harus lancar tes 18 holes, supaya kita terbiasa nanti kalo ikut turnamen 36 holes sehari. Kita juga latihan buat short game. Nah, tes-tes ini nanti yang menentukan kita ditempatkan antara divisi 1 sampai 3. Penentuannya berdasarkan average score dari nilai mainnya”, tambahnya.
Selama pandemi, Yoko menghabiskan waktu di Indonesia karena kegiatan di kampusnya juga terbatas. Meski begitu, studi tetap jalan secara online. Rencananya Yoko akan kembali ke AS pada Agustus tahun ini. Padatnya jadwal latihan dan game tidak menjadikan alasan bagi Yoko untuk mengabaikan study-nya di bangku kuliah. Bahkan, ia menegaskan kampusnya menganggap nilai akademis tetap yang utama. Tidak ada ceritanya altet mendapat previlage dalam kulaih dan nilai. Kampus hanya memberikan keringanan dalam soal absensi.
“Soal nilai dan beban tugas, semua sama. Gak dibeda-bedain. Kalo nilai kita jelek, kita gak dibolehin ikut turnamen atau latihan dulu. Yap, pinter-pinter kita aja gimana bagi waktunya”, ujarnya. Meski sudah berstatus atlet, dan sebentar lagi masuk pro, ada saja cerita lucu kala berlatih. Misalnya,ia berkali-kali gagal dalam melakukan tembakan jarak satu meter (patting) untuk birdie dan juga tapping-in yang jaraknya pendek. Tangannya acap kali gemetaran ketika momen tersebut datang. Hal ini berangsur-angsur terjadi selama satu tahun penuh dan tidak menemui solusinya sekalipun ia merasa ia rajin untuk lakukan drilling. Ternyata, kunci untuk mengatasi masalahnya tersebut adalah untuk tidak malu berdiskusi dengan pegolf lain dan memohon saran.
“Waktu itu teammate aku yang asal Swedia pernah kasih saran ke aku agar kenapa tidak mengganti grip (posisi tangan). Eh, berhasil! Setelah setahun aku baru mikir kenapa baru coba sekarang. Hahaha. Aku orangnya terlalu banyak pertimbangan. Takut lama penyesuaian, ini itu. Ternyata, cepat adaptasi. Lucu juga sih.”
Ketika ditanya soal kedekatannya dengan teman-teman sesama atlet PGI DKI, pegolf yang punya “ritual” mendengarkan lagu sebelum bertanding ini menjelaskan bahwa PGI DKI selalu aktif mengajaknya latihan dari satu lapangan ke lapangan lain di tengah-tengah pandemi. Palig tidak ini bisa membuang kejenuhannya di saat ketiadaan kompetisi. “Seneng banget. PGI DKI care banget sama atlet-atletnya. Di lapangan, kita malah lebih sering game challenge. Mainin banyak format kaya scramble, baseball, foursome, mixed foursome.”
Ke depan, wanita yang bercita-cita masuk The Ladies Professional Golf Association (LPGA) ini menaruh harapan agar pemain-pemain golf muda memiliki semangat juang yang tinggi untuk bersaing di internasional demi mengharumkan nama bangsa. Pengagum Rory Mcllroy dan Nelly Korda berhadap PGI DKI dapat terus membina atlet-atlet muda sehingga ke depannya makin banyak golfer Indonesia yang berprestasi di regional dan internasional. Semoga Yoko!

