Muda dan Mandiri. Kira-kira begitulah frasa yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Aqil Widyantoro, atlet elite amateur PGI DKI Jakarta. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini mengaku tidak mudah untuk konsisten di jalur golf, mengingat cabang ini tidak begitu populer dimainkan anak-anak Jakarta. Saat usia balita hingga sekolah dasar, Aqil terlihat berbeda dari teman-temannya karena punya hobi golf. “Anak-anak Jakarta bisanya main bola, futsal, dan bulutangkis. Ada juga yang motoran. Aku malah nge-golf. Hehe“, kenang Aqil.
Kepada PGI DKI Jaya Podcast, beberapa waktu lalu, ia mengatakan fakor keluarga sangat berpengaruh dalam pejumpaannya dengan olahraga golf. Ia merasa bersyukur dikenalkan dengan olahraga ini oleh orang tuanya. Dari ayahnya yang juga golfer, Aqil kerap diajak ke course. Saat berusia 5 tahun, ia sudah mengayunkan junior stick. Tidak seperti anak kecil lainnya yang butuh adaptasi, Aqil mudah sekali tertarik dengan olahraga tersebut. Pihak orang tua sangat mendukung penuh keseriusan Aqil mendalami olahraga tersebut.
Hanya berselang 2 tahun, peforma Aqil junior melesat dan langsung dipercaya untuk ikut turnamen-turnamen junior agar terus mengasah kemampuannya. Di usia 10 tahun, Aqil menguji keahliannya dengan terjun ke tingkat kompetisi yang lebih bergengsi di turnamen Singha, Thailand. Yang menarik pada ajang Junior Golf Championship tahun 2010 tersebut, Aqil belum secara resmi terdaftar sebagai member tim Indonesia sehingga ia mesti berjuang sendiri. “Dari belasan turnamen yang aku ikuti, yang paling berkesan ya di sana (Thailand). Aku masih kecil. Berangkat gak diantar. Trus, aku bela nama Indonesia pake uang jajan ku sendiri untuk biaya turnamen, akomodasi, dan lain-lain”, ujarnya.
Selain di Thailand, Putra Cup tahun 2019 di Vietnam juga menjadikan kenangan berbekas yang takkan pernah ia lupa seumur hidupnya. Selain karena itu pertama kalinya ia bergabung bersama timnas senior, turnamen itu menjadi saksi bertemunya Aqil dengan pegolf-pegolf Top Asia yang penampilannya bisa ia lihat secara live. Aqil merasakan tekanan yang begitu tinggi. Pasalnya, untuk menghadapi lawan yang tangguh tersebut, ia dan tim mengakui persiapannya kurang ideal. Walaupun begitu, keberuntungan masih mendorong timnya berada di posisi yang masih cukup baik.

“Well, ekspektasi kita realistis dengan persiapan tersebut. Hasilnya lumayan, sampai hari ketiga, kita bertahan di posisi dua. Meski akhirnya harus puas turun ke–4. Wajarlah karena persiapan memang kurang optimal”, ungkapnya. Menyoal perkembangan golf Indonesia sendiri, Aqil mengakui pada era 90-an, Indonesia kerap unggul dari negara-negara tetangga. Namun, kini kenyataannya berbeda, dimana perkembangan Golf di Thailand dan Filipina misalnya, jauh lebih pesat. Di Podcast PGI DKI, Aqil membuka fakta bahwa jumlah atlit di tanah air tidak sampai seperempat jumlah pemain elite Thailand, padahal populasi kita jauh lebih banyak. “Kira-kira mereka punya 7,000 pemain elite, lho! Kita? Paling 200–an. Korsel jauh lebih banyak lagi dari Thailand. Mereka regenerasinya cepat. Misalnya ada 4 pemain mereka yang turned pro, di belakang udah ada yang gantiin mereka”, jelas Aqil.
Meski jauh di bawah Thailand, Aqil menegaskan bahwa dalam sebuah pertandingan pada akhirnya mental baja adalah elemen yang krusial dalam meraih kemenangan, siapapun lawan yang akan dihadapinya. Berhenti meninggikan orang asing sebagai kompetitor yang selalu unggul dan menganggapnya setara juga bisa menjadi kunci penguat semangat. Aqil kemudian memberikan sebuah contoh riwayat pertandingan legenda golf Indonesia, Benny Kasiadi yang saat itu menang lawan pemain top Eropa di Rawamangun.
Selain mental, Aqil menambahkan bahwa kekuatan fokus saat berlatih wajib dimiliki agar terbiasa di pertandingan besar. Dengan motto-nya quality over quantity, baginya memusatkan perhatian pada bagian-bagian teknis yang melemahkannya sebagai atlet harus didahulukan daripada menghabiskan waktu untuk skill yang sudah baik terasah. Secara perlahan, menurutnya, capaian-capaian itu akan terbentuk dan beradaptasi dengan sendirinya asalkan orang tersebut tidak menyerah, memperbanyak pengalaman dan menambah jam terbang latihannya.
Pria yang rutin menghabiskan 3 jam untuk latihan setiap harinya ini juga merasa terbantu dengan program sport science di kampusnya yang menunjang penampilannya di lapangan. “Penting banget hal itu, misalnya body building. Cabang yang ku ambil ini kan sarat dengan physical power. Mau tembak jauh kalau gak ada tenaga mana bisa. Malah, di kelas kita juga diajarkan anatominya”, urainya.
By Zaaenal AB & Fauzi Ramadhan


Maju terus Dek Aqil, salut.