Jakarta Master Club (JMC)

JMC, Master-nya Golf Jakarta

By Zaenal AB

Siapa bilang klub golf amatir hanya untuk hiburan dan hoby semata? Big wrong gaess! Coba tanyakan ke para member Jakarta Master Club (JMC), mereka pasti akan tersenyum ketika diberi pertanyaan tersebut. Ya, JMC memang beda. Klub yang didirikan 17 Agustus 2005 oleh 17 founders ini sejak awal mengusung semangat prestasi—disamping hobi dan silaturahmi. Sebagaimana disampaikan Suharsono, Ketua Umum JMC, klub yang berbasis di Kelapa Gading ini sarat dengan semangat kompetisi sejak awal. “Saya hanya melanjutkan tradisi yang digariskan oleh para founder, bahwasannya JMC harus berbicara banyak di berbagai event, baik nasional maupun internasional”, ujar pria necis yang kerap disapa Cing-Cing ini.

jakarta masters club logo

Lebih jauh, kata Suharsono, JMC adalah satu satunya komunitas golf yang member-nya harus menyandang single handicap, dimana mereka biasanya bermain dari black tee box. Tentunya bermain dari black tee box tidaklah mudah, apalagi bagi anggota yang sudah berumur. “Namun karena perkembangan, tradisi ini hanya berlaku hingga kepengurusan di periode pertama saya. Di kepengurusan kedua saya, akhirnya direview mengingat banyaknya anggota yang masuk usia senior (diatas 55 tahun) termasuk saya. Sehingga kami pecah menjadi dua, kategori Senior yang bermain dari second tee-box, sementara kategori Regular masih tetap bermain dari black tee-box,” rincinya.

Pilihan yang tidak salah, pasalnya dengan “merit system” yang dipegang JMC, para member yang akan masuk terseleksi secara alamiah. “JMC memberlakukan syarat single handycap untuk semua member-nya tanpa kecuali. Jadi calon anggota baru yang akan masuk namun masih menyandang double hendycap, mereka harus berusaha menurunkannya, minimal start dari 10”, lanjutnya. Biasanya para calon member justru termotifasi dengan aturan ini. Mereka akan berusaha keras mengejar single digit handycap untuk masuk JMC. Para member JMC juga sangat welcome dengan anggota baru, termasuk membantu para kandidat anggota mengejar batas handycap.

Itulah “rahasia” dibalik kata “Master” di JMC. Master diartikan sebagai para golfer dengan single handycap. Tentu saja skill-nya juga master. Indikatornya dapat dilihat dari raihan prestasi JMC member di berbagai event. Sampai saat ini tak kurang 30-an trophy dimenangkan JMC players dari berbagai arena. Terbaru di Gunung Geulis Golf Club, tiga atlet JMC, yaitu Suharsono, Bimo Baskoro dan Adi Prakoso menjadi yang terbaik dalam Gunung Geulis Interclub Best Ball Golf Tournament, pertengahan Maret 2021 lalu. Diikuti tim Big Fish Golf Indonesia sebagai the Runner Up dan Notorious Golf Club as the Second Runner Up from the 22 Golf Clubs in Indonesia.

asian development tour

Tak berhenti di turnamen nasional, JMC juga terjun ke turnamen-turmanen regional dan internasional untuk menambah jam terbang anggotanya. “Yang terbaik setiap bulannya di JMC, kita promosikan tampil di turnamen internasional”, tambah Suharsono. Sebagaimana dikutip dari GolfJoy, JMC mempunyai target meloloskan sang Order of Merit 2021 untuk berlaga di ajang tour Asia tier 2, Asian Development Tour atau ADT yang rencananya akan dihelat pada Agustus 2021. Order of Merit JMC 2021 tersebut akan diambil dua pegolf (dari kategori Senior dan Regular) hasil seleksi pada kompetisi Monthly Medal (MM) yang dimulai pada Januari hingga Agustus 2021.

“Order of Merit JMC dari Januari hingga Agustus 2021 ini akan diikutkan dalam turnamen pro ADT Asian Tour pada Agustus nanti. Sementara dari kategori seniornya, JMC akan mengirimkan satu pegolfnya untuk bermain di pro-am ADT. Kedua pegolf tersebut akan kita berikan fasilitas akomodasi untuk bertanding di ADT nantinya”, tegas Cing-Cing. Penyaringan menuju Order of Merit dilakukan tiap bulan dalam MM JMC tadi. Pada MM ketiga Maret 2021 lalu, Rudi Liang, pegolf handicap 8 keluar sebagai pemenang Best Gross pada kategori Senior Flight. Pegolf berhandicap 8 ini berhasil mencetak skor gross 75 (37-38). Di Reguler Flight, Krishna Iskandar (hcp 2) menjadi yang terbaik meraih Best Gross dengan skor gross 77 (40-37).

Suharsono

Pada Agustus mendatang, JMC berusia 16 tahun. Di momen tersebut Suharsono berharap klub-nya bisa menyumbang prestasi lebih dari yang saat ini diraih. Regenerasi juga menjadi keniscayaan untuk kesinambungan organisasi. Di sisi lain, selama pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, golf justru banyak dipilih sebagai olah raga yang dimainkan masyarakat luas, karena dianggap relatif aman. Melihat fenomena ini, JMC sangat optimis masa depan golf Indonesia akan lebih baik. Bahkan JMC saat ini membuka seluas-luasnya bagi para milenial golfer yang tertarik join ke JMC. “Namun syaratnya tetap single handycap tadi”, kata Suharsono sambil tertawa.

Di luar itu, JMC juga berkomitmen membina atlet junior untuk didukung dan diorbitkan ke PGI DKI Jakarta. Saat ini ada beberapa nama atlet junior yang berusia 10 sampai 15 tahun yang dipantau dan didukung oleh JMC. “Kami sudah berkoordinasi dengan PGI DKI untuk mencetak atlet-atlet junior potensial. Itu bagian dari tujuan organisasi JMC untuk memberikan sumbangan bagi pengembangan golf prestasi di tanah air”, katanya.

JMC saat ini memiliki 60 anggota dari beragam latar belakang dan profesi, mulai pensiunan militer, polisi, pejabat aktif di berbagai lembaga dan BUMN, profesional, hingga enterpreneur. Tercatat Komisaris Jenderal (Purn) Drs Nanan Soekarna, mantan Wakapoli dan Laksda TNI Maheranto, S.E., M.M. sebagai Dewan Pembina JMC. Komposisi pegolf Senior 40 persen dan Reguler 60 persen. Dengan segudang raihan trophy dan konsistensi memegang single handycap, tampaknya JMC masih akan bertahan sebagai club master-nya golf Jakarta (bahkan Indonesia) dalam beberapa tahun ke depan.**** 

Leave a Reply